Wednesday, January 21, 2015

DariNya dan PadaNya, Kita ada

Andai pada urusan takdir kita bisa memilih, kita pasti akan berlomba-lomba mendekorasi hidup. Mewarnainya dengan warna terang maupun redup. Sesuka hati, tanpa batasan dan ketelitian yang pasti. Yang ada hanyalah hasrat, hanya imaji yang tiba-tiba muncul berkelebat. Tapi kita tidak bisa, pada nyatanya semua rencana akan kembali padaNya. Rencana panjang kita, hilang begitu saja. Semua hilang ketika penentu arah mengatakan tidak ataupun pindah. Itulah kenapa ada ‘ikhlas’ sayang, itulah kenapa kita perlu warna lain dalam hidup.


Warna-warna yang entah memenuhi atau melengkapi, terwujud manusia yang tinggal di sisi, atau yang hanya lewat kemudian pergi. Semua berasal dariNya sayang, kembalikan padaNya seperti seharusnya. 

- Ai In El -

Wednesday, December 03, 2014

Sakit Hati

Pada suatu hari, aku mendapatkan sebuah kotak tanpa nama. Berwarna hitam legam kebiruan, dan sedikit tulisan. Namanya ‘masa lalu’, dengan warna yang menakutkan untuk diletakkan sebagai hiasan. Ingin kukembalikan, namun pada siapa akan kukembalikan. ‘Masa lalu’ ini tanpa nama, tanpa kejelasan siapa pengirimnya. Kututup ‘Masa lalu’ ini dengan kertas putih, kubungkus rapat dengan rapi. Tak lupa, kusematkan sedikit pita sebagai pemberi warna, sebagai hiasan agar terlihat makin indah. Kemudian, yang tercinta bertanya. “apa ini, apa isinya?”, kukatakan hanyalah sebuah benda yang akan mengganggu mata. “benda apa?” lagi-lagi dia bertanya, kujawab kau akan membenciku jika melihatnya. “tak akan, apa adanya kamu adalah sebuah pemberian” bujuk rayunya. Kemudian yang tercinta memaksa, membuka ujung kertas putih untuk mencari celah. Dan hanya dengan melihat sedikit hitam legam kebiruan, dia bertanya. “bagaimana bisa kau memilikinya?”, kujelaskan bahwa aku tidak tau darimana asalnya. Kukatakan bahwa aku tak tau kepada siapa aku harus mengembalikannya, pada siapa aku harus memberikannya. Lalu yang tercinta membenci, pergi, dan tak lagi kembali. Seperti inilah kisah akan terulang kembali, berputar berkali-kali dan menyisakan luka yang entah kapan ada penyembuhnya. Kalian yang tercinta akan datang bergantian, mencoba mengenal, bertahan, kemudian mencampakan. Pada siapa harus kukembalikan? Pada siapa harus kuberikan?


Membisu dalam suara, berteriak dalam sajak

Kepergian akan selalu menjadi sebait waktu yang menyakitkan, namun kedatangan akan membawa perban dengan obat yang menyembuhkan. Aku dan kamu memang dipetemukan, sempat dipersatukan, namun kemudian dipisahkan. Kepergianmu juga masih menjadi sebait waktu yang menyakitkan, namun kedatangan yang kutunggu kesembuhannya belum juga datang. Aku lelah menunggu, aku lelah mencarimu di semua lorong kedatangan. Sebelum kamu pergi, kamu memang beriku cirri untuk dapat menemuimu lagi. Tapi apa daya, energi ini hampir kering untuk menantimu muncul kembali. Di setiap lorong kedatangan kugantungkan mata siaga, agar aku tak pernah lewatkan waktu jika kamu ada. Telinga penuh informasi tentang jejak sebelum kamu pergi, namun tetap saja tanpa arti. Waktu demi waktu 4 tahun yang lalu itu sungguh membuatku rindu, seperti anak merindu sang ibu. Aku dan kamu itu satu, raga  dengan jiwa di dalamnya. Lalu ketika kamu pergi, akankah kamu kembali lagi, atau mungkin kedatangan yang lain sebagai pengganti. Datanglah kembali, kutunggu kamu di lorong kedatangan seperti isi janji.


Membisu dalam suara, berteriak dalam sajak

Untukmu, yang suatu saat akan datang kerumahku dengan membawa segenap keluargamu. Perkenalkan, aku si wanita tanpa sempurna. Keahlianku adalah melupakan hal-hal kecil, karena itulah aku disebut pelupa. Hobiku menulis, sembari meredam tangis. Cita-citaku sederhana, hanya ingin menjadi wanita yang sedikit lebih sempurna. Jika kamu melihatku, mungkin kamu akan terpukau dengan keangkuhanku. Tapi sekarang, akan kuperkenalkan satu-satunya jiwaku. Topeng-topeng kemarin sedang tak terpakai, tergeletak diujung kamar. Aku tidak akan menyamar, inilah aku dengan tanpa jaket hitamku yang terlihat sangar. Aku ini kaku, dan tak banyak mengerti tentang ilmu. Kuanggap diriku ini cukup bodoh untuk tahu, tahu bahwa satu-satunya yang terbaik adalah yang bisa menerimaku. Aku, dengan apa-adanya diriku. Maaf, mungkin akan ada sewaktu penuh angkuh dariku. Mungkin itu hanya terbiasa, suatu saat juga akan hilang dengan sendirinya. Aku memang terbiasa angkuh, angkuh terhadap dunia. Dunia ini begitu keras, untuk itu aku angkuh untuk menghadapinya. Rasa takut, bimbang, benci, jijik, dan sedih itu tercover dengan angkuh. Mohon jangan salahkan aku, aku hanya tak cukup pintar untuk memahami apa maumu. Jika suatu hari kita berbeda di persimpangan jalan, tunjukkan. Dan jika aku salah, bimbinglah. Karena aku mau belajar, belajar memamahi hidup dengamu. Belajar menghadapi dunia dengan caraku juga caramu, tanpa ragu. 


Friday, October 17, 2014

Write your destiny II




Menulis?? Seperti angin aku melihatnya, ada kebebasan, melintasi keseluruh

    penghujung dunia, mengamati seluruh gerak gerik kehidupan dan kemudian

   menghembuskan kabar kedaun-daunan, seperti kita saat mengabadikan menjadi
   sebuah tulisan, tak peduli pahit atau manis, karena angin bersifat menyejukkan.


   By : Raafi
 



Wednesday, October 08, 2014

Bahasa cinta dari alam




Cintaku bersemi bersama cahaya pagi, berkawan embun yang menyirami. Cintaku sakit bersama terik siang hari, membara membawa luka dan peluh akan penyakit hati. Cintaku mengalah bersama mega, bersama padamnya cahaya dan membasuh luka dengan merah saga. Cintaku berdiam dalam malam, melihat dan mengambil kesimpulan. Hingga akhirnya, cintaku kembali diantara keluarnya matahari dan tenggelamnya bulan malam hari, kembali memeluk diri dan bersemi bersama cahaya pagi, kembali. Lihatlah, cintaku masih disini. Terus-terus saja kembali, dan takkan pernah mati.


Friday, September 12, 2014

Write your Destiny

Suatu malam di ujung ruangan, perempuan itu menatap lekat layar dihadapannya. Dia berfikir bagaimana harus mengeluarkan penjelasan atas hobby yang dipertanyakan beberapa orang disekitarnya, hobby yang menjadi teman sejatinya. Dia mulai mengetik beberapa kata, dan mulai ada suara dari tuts-tuts di hadapannya. Tapi sekali lagi, berakhir dengan Ctrl+A kemudian Delete.

Apa arti menulis untukmu?

Pertanyaan macam apa ini, pikirnya. Dia tidak tau bagaimana cara menjelaskan arti keberadaan teman sejatinya itu. Hingga akhirnya, dia menutup mata. Mulai merasakan apa yang dia rasakan, dan menulis..


Menulis, seperti air aku melihatnya. Air yang disebut-sebut sebagai obat, sebagai elemen paling menenangkan di dunia. Seperti terapi tersendiri, pada tulisan aku bisa melepaskan penat dalam bentuk yang lebih menyenangkan. Seperti air dia menyegarkan, mengalir pelan membersihkan ubun-ubun kepala, melewati mata dan sedikit tergoyang membias menjadi air mata. Melewati hidung, menyerbak seperti embun pagi yang menghembus  di hadapan jendela. Kemudian turun perlahan membasahi mulut dan tenggorokan, membuat mulut kehilangan kata-kata tak berguna untuk diucapkan. Berubah menjadi tulisan-tulisan pasti. Mengalirkannya melewati pancreas, melegakan setiap tarikan nafas. Mengalir kembali melewati hati, membawa setiap luka akan tersakiti. Merembes pada empedu, membuai lambung melepaskan endapan racun. Kemudian segala hari biru tangis seolah sirna dengan luar biasa, mengembun menjadi kata-kata melayang di udara, tertangkap dalam imajinasi membentuk makna tersendiri. Menjadi lebih berarti..