Sunday, December 15, 2013

Ah, Kamu bikin saya ketawa aja.



Coat berwarna mocca dengan senyuman yang sudah beribu-ribu kali saya hafalkan. Bau semerbak vanilla dari sisimu begitu nyata, membuat saya tidak bisa membedakan mana nyata mana fatamorgana. Coat shoft grey dengan kelakuan seperti biasa, itulah saya. Hihihi, saya masih saja tertawa sendiri. Gerakan jari tanganmu di pundak saya masih terasa hingga sekarang, terbawa hingga dunia nyata. Sungguh kasih penguasa semesta, Ia belum mau memberimu untuk saya, namun Ia berikan saya waktu untuk melihatmu di mimpi saya. Kamu.. saya sangat mengenalmu.



Wednesday, December 11, 2013

2 Pecahan Kerajaan Mataram



Semua masyarakat solo pasti sudah biasa dengan pemandangan gunung di setiap sudut kota, mulai dari gunung lawu yang terlihat di arah timur, dan gunung merbabu juga merapi di arah barat. Belum lagi di sekitar gunung merbabu terpampang jelas bukit-bukit gunungkidul yang penuh dengan lampu-lampu berkerlap-kerlip. Ah, sungguh damai melihatnya. Alam yang akan selalu bisa mengayomi jika kita juga mengayomi alam, seperti simbiosis mutualisme antar 2 kehidupan ciptaan Tuhan. Dulu, Yogyakarta dan sekitarnya pernah terguncang. Pernah mati suri karena alam. Ketika Merapi mencari kongsi, mengajak Merbabu untuk memberi peringatan pada manusia bahwa mereka hanyalah mahluk kecil yang tidak pantas berbuat sombong diatas dunia. Namun merbabu menolak, dia memilih diam. Merapi tetap melancarkan misi-NYA, merapi menggandeng petir dan pasangannya. Petir mulai menggoda, berkedip kearah semua penjuru yogyakarta. Memberi tanda pada pasangannya untuk terus menghembuskan hujan angin disana. Berkali-kali petir menggoda, seolah berusaha menjilat bumi dan penduduknya. Merapi tidak sendiri, dia bersama petir dan pasangannya. Merapi menggoyahkan daratan yogya, memberikan gelombang di pingiran laut jawa. Menunjukkan kehebatannya, menyampaikan pesan dari Tuhan untuk manusia. Debu vulkanik hanyalah efek, menjadi bonus dari merapi. Sebelum akhirnya, merapi benar-benar menyampaikan salam dari neraka. Memberikan sajian pertunjukan langsung betapa neraka melakukan hal yang lebih ngeri dibandingkan merapi. cairan merah meleleh dari puncak kaliurang, berjalan menyusuri bekas-bekas peradaban manusia yang ditinggalkan demi keselamatan. ‘Lihatlah, hanya padaku saja kalian lari, apalagi pada api neraka yang 40 kali lebih hebat daripada aku?’ teriak lahar panas, dengan suara yang terdengar nyinyir di telinga. Lahar membakar habis sisa-sisa peradaban itu, membakar habis semua yang dilewatinya. Sebagai salam penutup dari merapi, dilmuntahkannya juga lahar dingin di bagian lain yogyakarta sambil berkata ‘bisakah kalian bangkit setelah ini? Karena Tuhanku dan Tuhan kalian bilang ini hanyalah cobaan kecil untuk membuat kalian semakit kuat dengan kebangkitan’ Bangkitlah masyarakat yogya, bangkitlah.

Salam hangat,
               warga solo.

Thursday, December 05, 2013

Look in the eye



 Dan tatapan kami memiliki arti, arti yang hanya kami yang mengerti.

kutatap wajahnya, seperti biasa posisi aneh yang selalu diciptakan oleh wajahnya. Tutup pena di gigi, mata tertuju pada satu kertas, dan dahi sedikit mengkerut. Tak lupa, jakun yang menonjol di lehernya. Wajah yang tidak pernah memaksaku menjadi seperti apa yang dia mau, tak pernah ragu ikut tertawa gila bersamaku. Wajah yang sangat memahami ketika aku menangis tanpa sebab, atau ketika aku merajuk menginginkan sesuatu. Dia tau betapa mneyebalkannya aku, dia tau betapa aku seperti anak kecil dengan segudang ambisinya. Dia yang lebih sabar daripada aku..
“ kamu udah makan? “
“ udah kok, kamu sendiri udah makan? “ sambil terus menatap kertas di hadapannya, suaranya aneh dengan posisi mulut masih menggigit tutup pena seperti itu
“ udah juga. Kamu mau eskrim nggak? Aku pengen eskrim niiih”
“ okeee, 10 menit lagi ya. Ini tinggal bagian akhir yang aku belum ngerti, perhitungannya berantakan.”
“ perhitungan apa siih, udah deeehh. Perhitungan yang bagus tuh ngitung jumlah gigi niihh. Hiiii.”
kutarik kertas yang dia bawa dan kupasang wajah dengan senyum gigi paling freak sedunia.
“ kamuuu, iya ayo deh. Kita beli sekarang yuk maniiis.”
“hahahahahaha, yuk yuk yuk.” Kutarik tangannya, kuseret dia pelan sambil tertawa.

                             *********************************************************
pekerjaan selalu saja memuakkan, perhitungan apa lagi ini yang salah. Terus kurenungi kertas laporan kantor dengan beberapa perhitungan yang entah bagian mana salahnya.
“ kamu udah makan? “ kudengar suaranya bertanya, mungkin dia bosan daritadi melihatku sibuk dengan beberapa kertas sedangkan dia sudah selesai dengan pekerjaannya. Suara yang selalu menentramkan hatiku, yang selalu memberiku semangat.
“ udah kok, kamu sendiri udah makan? “
“ udah juga. Kamu mau eskrim nggak? Aku pengen eskrim niiih” suaranya mulai merayu, memintaku meninggalkan kertas ini. Ini lah menyebalkannya dia, tapi aku tidak pernah bisa marah padanya. Sejenak konsentrasiku tidak terarah pada laporanku, aku jadi teringat ketika dia pernah bilang bahwa dia ingin didampingi superman. Kukatakan aku bukan superman, lalu dia bilang bahwa aku spiderman. Kujawab lagi bahwa aku spiderman, dan dia menjawab ‘baiklah kamu boleh jadi apa saja yang penting aku mau kamu’. Itulah, aku tidak pernah menyerah untuknya. Karena dia juga tidak pernah menyerah untukku.
“ okeee, 10 menit lagi ya. Ini tinggal bagian akhir yang aku belum ngerti, perhitungannya berantakan.” Kujawab sekenanya
“ perhitungan apa siih, udah deeehh. Perhitungan yang bagus tuh ngitung jumlah gigi niihh. Hiiii.”
dia merampas kertasku, kemudian tersenyum lebar menunjukkan deretan giginya yang agak berantakan dengan 2 gigi taring di sisi kanan dan kiri. Ah, dia. Selaluuuu saja membuatku tertawa, membuatku bisa melepas beban hanya dengan menatap kelakuannya.
“ kamuuu, iya ayo deh. Kita beli sekarang yuk maniiis.”
“hahahahahaha, yuk yuk yuk.” Sambil menyergap tanganku, merapatkan jari-jari tangannya pada tanganku. Manis, aku tidak akan pernah mau kehilangan kamu.

Tuesday, November 26, 2013

tunggu saja



Aku hanya akan menitipkan bayangan untukmu, karena kita pasti terpisahkan oleh jarak, oleh jalan kehidupan yang berbeda. Kita satu tujuan, tapi berbeda jalan. Kita stu pikiran, tapi beda cara mempraktekkan. Kita satu jiwa, tapi dengan dua raga. Pulau indah dengan ombak tinggi itu yang akan terus menyaksikan hidupmu, menyaksikan sangsi nya hidupmu. Dan kota dengan junjungan budaya yang tinggi ini yang menyaksikanku, menyaksikan bolak-balik hidupku. namun langit, langit melihat kita. Melihat kita beradu dengan jutaan manusia, melihat kita lelah karena jutaan pemikiran gagal, dan kita tidak pernah menyerah. Langit melihat kita, itu artinya kita selalu melihat langit yang sama. Kita, akan bertemu lagi dibawah langit, menginjak tanah, dan alunan suara merdu panggilan Tuhan. Kita, hanya menunggu waktu. Menunggu Sang langit tak tega, dan menyatukan kita berdua. Tunggu saja...

Saturday, November 23, 2013

Siluet Prince Project - Plot



Mataku serasa mau copot begitu melihat dia, dia. Ya, dia. Dia yang 2 tahun lalu kutemui di dalam bus jurusan surabaya – jogja, yang manisnya setengah mati, yang bikin aku bisa nulis cinta bernuansa ceria lagi, yang memberiku inspirasi. Kulihat dia semakin jauh, jalannya agak cepat dengan menenteng sebuah kamera DSLR di lehernya. Untuk pertama kalinya ini, aku nggak sadar bahwa aku melakukan hal bodoh demi perasaan, demi penasaran. Kukejar langkahnya, aku setengah berlari, dan TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINNNNNNN. Kudengar suara klakson mobil diarah kiriku, dan orang-orang mulai melihat kearahku sambil mengatakan “mbak, hati-hati.” Pengendara mobil tadi juga sedikit emosi akibat ulahku yang menyeberang pertigaan nggak pake tengok kanan tengok kiri, bisa terlihat dari ucapannya “oo.. semprol, mengko yen ketabrak piye”. Dan hanya satu kata yang bisa keluar berkali-kali dari mulutku, “maaf , ngapunten, maaf “. Kulanjutkan langkahku, kupercepat, dan kuedarkan pandanganku. Dia hilang, kemana dia. Aduuuh, bisa nyesel setengah hidup nih kalau nggak nemuin dia disaat aku lagi kehabisan ide begini. Dia kan ispirasiku, mungkin tuhan mempertemukan kita sekarang karena Ia tau aku kehabisan udara di ruang imajinasiku. Kulanjutkan terus langkah kakiku, dan... ketemu. Seketika aku berlari dan rem mendadak di hadapan punggungnya. Malioboro yang ruwet dan ramai membuat langkahnya tertahan. Oh tuhaann, dua tahun lalu aku sedekat ini dengan dia, bedanya itu di bus tapi sekarang di malioboro. Saking senangnya, aku tidak sadar kalau dia sudah sedikit lebih jauh dari tempatku berdiri. Aku berlari lagi, tapi bodohnya aku... aku menabrak punggungnya.
BRUKK.. kulihat dia jatuh diantara tas-tas batik yang sedang akan ditata oleh pemiliknya.
“ mas kalo jalan mbok yo ati-ati thoo “ ibu-ibu pemilik tas itu mengingatkan dia sambil mengambil tas-tas jualannya yang telah amburadul nggak karuan.
“ iya bu, maaf. Ngapunten, saya nggak sengaja.” Laki-laki itu meminta maaf, dia mengatakannya dengan campuran bahasa indonesia dan bahasa jawa. Logat agak medoknya bener-bener terdengar jelas, aku takjub. Dia orang jawaaaaa.. yeaayy. Oh ya, aku juga harus minta maaf, bodoh.
“ aduh ngapunten bu, mas, kulo mboten sengaja. Mriki kulo bantu beresin. “ aku bicara sebisa mungkin, bahasa jawa halus ku yang kurang mahir membuat ada beberapa kata indonesia yang nyelip nggak jelas.
“ iya mbak, nggak apa-apa. “ dia membenahi posisi duduknya sambil terus merapikan tas-tas tadi
“ nggeh, tapi lain kali hati-hati nggeh mbak.” Ibu penjual tas itu masih saja dongkol, kata-katanya barusan agak ketus.
“ ini sampun beres bu, ngapunten sekali lagi.” Ucapku
“ iya, ngapunten, permisi bu.” dia menambahi
“ iya, makanya kalo pacaran itu jangan di malioboro mbak, mas, jalanannya sempit jadi harus hati-hati kalo memang mau jalan-jalan disini.”
Oiing, pacaran? Aku melihat kearah dia, dan dia juga melihat kearahku. Wajahku mungkin kelihatan seperti orang bodoh sekarang, karena kulihat mimik muka dia juga berubah sangat lucu, sangat aneh. Tapi mungkin dia tau bahwa ibu itu salah sangka, dan dengan bijaksananya dia mengatakan.. “ iya bu, ngapunten sekali lagi, permisi “ kemudian berjalan pergi sambil berulang kali tersenyum kearah ibu tadi. Aku yang berada dibelakangnya hanya ikut senyum dan mengikuti langkahnya berjalan. Aku berjalan menunduk dengan langkah pelan, ucapan ibu tadi membuatku senyum-senyum sendiri samapi sekarang. Kulihat lagi hadapanku, dia hilang. Oh tuhaaaan, jangan hilang lagiii. Kulanjutkan langkahku, kupercepat, tapi tetap tidak ketemu. Aku telah sampai di ujung malioboro, dan dia masih belum ketemu juga. Kulihat arah kanan-dan kiri, hanya ada beberapa taksi. Apa iya dia naik taksi terus pulang ya? Aiiihh, jleb banget deh. Aku menyerah. Ah, yaudahlah aku balik aja. Aku berjalan kembali menuju tempatku parkir motor, tapi haus yang daritadi nyiksa gara-gara panasnya jogja dan posisi indomaret di tengah-tengah malioboro bikin aku pilih nongkrong dulu di indomaret itu. Lagian juga aku baru inget kalau di indomaret malioboro ada fasilitas nongkrongnya, sama fasilitas charger gratis, lumayanlah. Setelah pilih-pilih minuman sama cemilan, aku duduk di salah satu bangku yang kosong. Aku charge handphone ku, dan kusudahi rasa hausku. Sambil serius bales sms di handphoneku, nggak sengaja siku ku nyenggol tas orang yang duduk disebelahku sampai isi nya berantakan di lantai. Entah kapan orang ini dateng, tapi untung aku nggak nyenggol kamera DSLR yang ada disebelah tasnya. Ini untuk yang kedua kalinya tuhan, oh.
“ maaf maaf, maaf ya mas.. “ ucapanku terhenti seketika begitu melihat wajahnya, dia ketemu. Diaaa.
“ iya nggak apa-apa mbak. Mbak? Mbak? “ dia menggoyang-goyangkan tangannya di hadapanku, aku ngelamun ngelihat dia. Bego. Tersadar dari lamunanku, aku Cuma bisa lanjutin permintaan maafku dan dia juga membalas lagi ucapannya.
“ iya nggak apa-apa, oiya mbak yang tadi kan ya? Yang nabrak saya di pasar tadi? “
Oh god dia inget, alhamdulilah. Tapi? Nabrak? Kok kesannya bersalah gitu yah? Hadeeh.
“ iya mas. Duh nggak enak nih sama mas nya, masa dalam sehari bisa sampe nabrak mas dua kali. Eh yang kali ini nyenggol ding. Hehe, Maaf ya mas. “
“ ah yaudah, nggak apa-apa.” sambil tersenyum maniiisss banget, senyuman yang dulu dia pasang di bus dua tahun lalu. Ya Tuhan, hambamu meleleeeehh.