Monday, May 27, 2013

Memo



Aku menemukan senyummu dalam senyumku, menemukan matamu di mataku, menemukan tawamu di tawaku, aku menemukan ibumu di mimpiku. Dan sekarang, aku ingin menemukanmu di setiap bangun tidurku .

Mahastra

Monday, May 20, 2013

sketch of mine


“ Kamu mau kemana? “ suara Mahastra mengejarku dengan langkah kaki setengah berlari. Kulihat wajahnya ngos-ngos an, kemeja biru muda yang dikenakannya sudah terlipat hingga setengah lengan, dan sepatu pantofel sudah dijinjing, dia berjalan tanpa sepatu. Hihhihihi, lucu juga anak ini kalo dikerjain. Dia mulai berlari mendekat dan beberapa detik kemudian sudah berada di depanku. 
“ kamu tuh ya, lama-lama aku pakein iketan anjing deh. Lari-lari mulu. Lincah amat sih, amat aja ga lincah-lincah banget.” Sambil berbungkuk, satu tangan memegang lutut dan satunya memegang dada. Dia sedang mengatur nafasnya yang ngos-ngos an.
“ hahahahaha, cemeeen, masa gitu doing udah nyerah si. Lagian aku kan ngajakin jalan-jalan aja. Pantai ini tu bagus banget tau. Iya kan?? Aku pengen cepet-cepet di puncak tebing sanaa, pengeeen.” Jawabku penuh semangat  sambil menunjuk kearah puncak tebing ujung barat pantai.
“ jalan-jalan nenek moyang dari hongkong, ini sih lari-lari namanya di.” Sekarang dia mulai berkacak pinggang
“ udah ah, yuk. Keburu mataharinya tenggelem semua.”
Kulanjutkan langkah kakiku, aku berlari sambil melihat kearah belakang. Mahastra mulai memasang wajah kusut, dia kaget melihatku mulai berlari lagi. Hahahahaha, sukuriiiiin. Siapa suruh tadi pagi langsung berangkat kerja duluan nggak mau nungguin aku. 
Mahastra memaksa kakinya berlari juga, kemejanya sudah berantakan dan keluar dari sisi-sisi perutnya. Jas putih yang tadinya dikenakan juga sudah dilepas disampirkan di pundak kanannya. Dokter macam apa dia ini, masa diajakin lari dikit aja udah ngos-ngos an. 
Setelah sampai diatas, Mahastra benar-benar menyerah. Dia duduk diatas rumput dan menyelonjorkan kakinya. Melihatku sedang  tertawa girang sambil bertepuk tangan saking senengnya liat pemandangan matahari tenggelam. Dia melihatku sambil tertawa kecil, seperti melihat bocah 5 tahun tertawa senang karena mendapat balon.
                                                                         ----------------
“ Kamu mau kemana? “ tanyaku pada perempuan aneh di depanku ini, tapi seolah tidak mau menjawab, dia hanya berhenti berlari dan memandangku dengan raut wajah yang selalu tidak bisa dijelaskan. Wajahnya itu, selalu bukan marah, bukan sedih, bukan kaget, bukan senang, lebih tepatnya, dia melongo. Tapi itu yang selalu membuatku lega melihatnya, dan menghilangkan segala beban dalam raga. Aku jalan setengah berlari, mengejar perempuan itu yang sedang menungguku mencapai posisinya berdiri. Kutenteng sepatu pantovelku dan kulipat kemeja dan jas praktekku sampai lengan.
“ kamu tuh ya, lama-lama aku pakein iketan anjing deh. Lari-lari mulu. Lincah amat sih, amat aja ga lincah-lincah banget.” Ucapku padanya begitu aku berdiri di depannya. Bukan berdiri siih, lebih tepatnya membungkuk. Aku bener-bener nggak sanggup diajakin lari-lari. Perempuan iniiiiii, huh. Bener-bener perempuan aneh, seingatku 10 menit yang lalu dia sedang marah dan bicara sangat jutek. Tapi setelah melihat sunset dan puncak tebing yang kutunjukkan, wajahnya berubah cerah dan sangat excited. Sumpah aku nyesel udah nunjukkin tempat ini biar dia nggak marah lagi. Capeeeeeekk.
“ hahahahaha, cemeeen, masa gitu doing udah nyerah si. Lagian aku kan ngajakin jalan-jalan aja. Pantai ini tu bagus banget tau. Iya kan?? Aku pengen cepet-cepet di puncak tebing sanaa, pengeeen.”
Dia mengejekku, kemudian menunjuk kearah puncak tebing. Aku melihatnya dari samping. Dibalik dia berdiri, terpampang pemandangan matahari tenggelam, cahaya matahari itu begitu terang, sehingga perempuan itu terlihat seperti siluet dan lekukan bentuk wajahnya terlihat jelas. Senyuman manisnya terlihat lebih menawan dengan cahaya matahari yang langsung memancar dari sisi kanannya. 
“ jalan-jalan nenek moyang dari hongkong, ini sih lari-lari namanya di.” Aku pura-pura marah, tapi dia tetap saja cuek dan malah menjawab.
“ udah ah, yuk. Keburu mataharinya tenggelem semua.” 
Dita, perempuan itu kembali berlari. Ya ampuuun, lincah banget sih. Kususul dia, dan kupaksakan kakiku berlari mengejarnya, walaupun dengan wajah nggak karuan.
Setelah sampai diatas puncak, aku bener-bener nyerah. Aku langsung duduk diatas rumput dan melihat perempuan itu tertawa sambil bertepuk tangan. Sekali lagi, tawanya melepaskan lelah dari raga. Dia melihatku dan melihat matahari tenggelam di depannya secara bergantian. Mengucapkan satu kata berkali-kali sambil terus bertepuk tangan.
“ yeaaaaaaayyy.. kereeeeen.” Ucapnya terus

Cinta,dia begitu lincah ternyata
Melepas penat dan lelah dari raga
Menebar senyum dimana-mana
Dita, kamu yang tercinta…


Saturday, May 18, 2013

Aku tidak tahu seberapa percaya kalian padaku



Aku tidak tahu seberapa percaya kalian padaku. Aku bukan menantu dari seorang mertua, Aku bukan istri dari seorang suami, Aku bukan pacar dari seorang lelaki, Aku bukan ahli psikologi, Aku bukan dokter jiwa, Aku bukan. Tapi kalian dengan senang hati bercerita. Walaupun itu aib, Aku juga senang hati mendengarkan. Kalian meminta saran, Kalian meminta solusi, Padahal kalian tau, Aku tidak sehebat kalian hingga diuji Tuhan dengan kondisi itu. Aku tidak tahu seberapa percaya kalian padaku. Kalian tahu aku belum tahu, Tapi kalian mempercayaiku untuk menjadi salah satu pemberi saran dari ceritamu. aku tidak tahu seberapa percaya kalian padaku.

Thursday, May 16, 2013

Dongeng



Kamu tahu kan aku suka nulis ? kamu juga tahu kan aku selalu membiarkan imajinasiku berjalan-jalan? Kamu tahu, imajinasiku menemukan sesuatu. Ssssstttt.. tapi kamu jangan bilang bilang. Aku akan beritau kamu. Imajinasiku menemukan laki-laki berdiri di pinggir jalan, imajinasiku mendatanginya dan menanyakan “siapa kamu?”, spontan laki-laki itu menjawab “aku gundala putra petir.” Imajinasiku tertawa kaget, melihat tampilan necis dengan jas putih percis seperti dokter. Tapi dengan bangganya dia bilang bahwa namanya adalah Gundala putra petir. Imajinasiku berhenti tertawa, dan melihat si dokter gundala tadi. “apakah kamu superhero juga?” tanya lelaki itu. “Bukan, aku Cuma numpang lewat aja.” . “ heeeyy, aku tanya kamu siapa, apa superhero juga, bukan apa yang kamu lakukan disini.” Kemudian lelaki itu tertawa tanpa henti. 

Imajinasiku heran, siapa orang ini. Jawaban-jawaban spontannya membuat imajinasiku malu, membuat imajinasiku bingung tak tentu. Kesederhanaan ucapannya, humble. Dia, percis seperti pemeran utama pada kisah cinta yang akan kutulis, dan yang sedang dicari oleh imajinasiku. Kebetulan-kebetulan yang dia bawa juga pas, memenuhi puzzle-puzzle cerita yang sedang kubentuk. Dia, Ketemu!

Monday, May 13, 2013

Geguritan ala Saya



Aku berharap ada yang bisa kuingat sekarang. Tentang cinta, tentang persahabatan. Aku berharap aku bisa sehumble seseorang, hingga semua terasa dekat, terasa memeluk dengan erat. Cinta, sebuah misteri yang ingin sekali dubuktikan banyak orang. Semua bilang, bahwa tampan adalah penilaian ketiga dari serangkaian. Status dan pekerjaan begitu dilihat dan dijadikan patokan. Mereka mencari, menilai, meneliti, memilah, memilih. Dan aku, dengan bodohnya masih tetap melakukan sebuah pertaruhan dengan keyakinan. Karena keyakinan dari Tuhan itulah aku berdiri, memilih sendiri dan tak mau diganggu siapapun. Aku percaya, sang Maha kuasa sudah mempersiapkan yang terbaik. Aku percaya..