Thursday, May 02, 2013

sketch in love



Di hadapannya, aku terlalu akrab dengan segala tingkah lakuku, hingga aku lupa siapa diri ini. Dia memberikan canda dan ucapan-ucapan biasa tapi terasa sangat menakjubkan. Dia laki-laki yang membuatku tak perlu berpura-pura apapun di hadapannya, yang bisa membuatku tertawa pecah hingga mengumpat tanpa sengaja. Yaa, walaupun setelah itu aku langsung membekap mulutku sendiri, dan kita tertawa. “nggak apa-apa, biasa aja. Kayak sama siapa aja sih kamu ini.” Ucapmu dengan suara khas lelaki yang berat namun terdengar mengayomi. Suara itu yang membuatku merasa teduh, kamu dan segala hal darimu, tak memberikan alasan untuk tidak membuatku jatuh cinta. Aku jatuh cinta. Secara tidak sengaja, aku jatuh cinta. Untuk keberapa kalinya ya aku sudah jatuh cinta padamu, apakah ini yang ketiga? Apakah aku akan terus jatuh cinta tiap bertemu denganmu? Mungkin iya, setiap kali bersamamau, aku akan jatuh cinta lagi padamu. Terus, dan terus seperti itu. Aku jatuh cinta..

Wednesday, May 01, 2013

hopeless



 Perbedaan selalu menciptakan gesekan moral yang bisa menimbulkan percikan api. Tapi, adakah orang yang mampu menjadikan perbedaan itu sebagai hal yang menyenangkan? Saya berharap Tuhan.. berharap yang berakhlak mulia nan bermoral. Berharap yang mengutamakan sholat dan puasa, zakat, dan orangtua. Namun orang bilang, dia tidak di dunia. Dia setengah dewa..



" Berdasarkan perasaan, kadang aku bisa mengatur hariku. Tapi hariku selalu gagal dalam mengatur perasaan "

Nostalgia Pagi



Aku mencoba menggali otakku akhir-akhir ini, mencari barang-barang kenangan yang mungkin bisa kujadikan pelajaran. Kutemukan kisah ini, durasinya nggak lama-lama amat sih.. tapi kesannya yang sangat lama.. lama telah berlalu.. durasi 45 menit yang selalu terjadi berulang-ulang setiap pagi.
Dimulai dari pukul 05.15 menit setelah sholat subuh.

“ adeeeeeekk, ndang mandiiiiii – adek, buruan mandi. “ aku berteriak sambil tetap sibuk mencari barang-barangku untuk kubawa ke sekolah. Tapi, Vava tetep aja mainin bolanya di halaman belakang rumah. Walaupun aku tau, dia pasti denger teriakanku. Buktinya, dia sempat mebalas dengan bilang “iyoooo.” Itu juga kalau aku nggak salah dengar.

Di sisi lain, di depan deretan 2 lemari dekat kaca, ada si kembar yang lagi memperdebatkan hal sepele dan membuatku geli sendiri.

“ sin, iki gotakku – ini punyaku.” Santi menarik kaus kaki putih dengan hiasan renda tipis di ujungnya.

“ gotakku – punyaku.” Sinta balik menarik kaus kaki tadi.

Mereka saling adu alibi, yang satu bilang sangat ingat dengan bentuk kaus kaki mereka yang memang sama dari bentuk dan ukurannya. Yang satu lagi bilang sangat ingat terakhir menaruh kaus kaki dimana, padahal mereka berdua sama-sama pelupa dan suka menaruh barangnya sembarangan. Jelas aja, itu bikin aku ngikik sendiri sambil membetulkan posisi sepatuku di kursi dapur. Kasihan ngelihat mereka debat lama-lama, akhirnya aku ambil keputusan di tengah-tengah mereka. Kukatakan kalimat yang aku tahu mereka pasti iya-iya aja.

“ wes, wes. Sinta Santi sut, sing kalah nggawe kaus kaki putih liyane. – udah,udah. Sinta Santi suit, yang kalah make kaus kaki putih lainnya.” Dan ucapanku dilanjutkan dengan aksi suit mereka. Hasilnya, Santi kalah. Dan seperti biasa, jika si bungsu itu kalah, dia akan memasang muka cemberut. Dan entah karena alasan nggak tega atau karena bosen ngelihat muka adeknya cemberut, Sinta akan seketika itu juga bilang “ yowees, kamu ae sing nggawe kaus kaki iki – yauda, kamu aja yang make kaus kaki ini.” Sambil menyerahkan sepasang kaus kaki putih berenda tadi. Hahahaha, kejadian yang selalu membuatku rindu sekarang. 

Tapi cerita mereka nggak berhenti sampai disitu, perdebatan selanjutnya adalah “siapa yang menghabiskan milo nya, ketika salah satu dari si kembar nggak mau minum lebih dari seperempat gelas yang harusnya dibagi berdua setengah gelas setengah gelas?” hmmm, yaudahlah. Biarin masalah satu ini mereka yang tentuin.
Di bagian lain, di depan tv diruang tengah, masih ada satu bocah laki-laki yang tidur dengan pulasnya dan tidak peduli dengan semua kesibukan yang sudah dimulai dari setengah jam yang lalu. dia Siko, atau Sikomodo kami memanggilnya. Kami itu, aku, Vava, dan si kembar. 

“ Siko, Siko tangi – bangun.” Aku menendang-nendang pelan pahanya.

Dan jawabannya hanya “ hmmm,, hiiiiiihh.” Terus melungker lagi.

“ hwaaaaaa, ndang tangiiiiiiiiiiiii. – buruan bangun.” Aku meniriakinya, dan menariknya hingga posisi melungker tadi berubah jadi duduk dengan setengah sadar.

“ hiiihh, iyoo. Iki tangi – ini bangun.” Akhirnyaaaaaa....

Dia melanjutkan jalan, dan menuju kamar mandi belakang. Halaaah, paling habis ini juga dia ketiduran sambil duduk diatas closet. Hah, yaudahlah..

Ini lah pagi dirumah, dan pagi di jalanan yang kulewati selama 15 menit menuju sekolah. Bersama kabut pukul 06.00 pagi yang selalu menyapa dengan dingin dan rasa seperti air tipis menerpa wajah.. ini lah pagi dengan durasi 45 menit itu, yang selalu kunantikan kembali kehadirannya. Walaupun aku tahu, itu tidak akan terulang kembali. Walaupun hanya satu kali..